Mengungkap Berbagai Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai yang Penuh Misteri

gracefuldreams.com – Selaku salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara, ada bermacam aset kerajaan Samudera Pasai yang pantas dikenal.

Dalam postingan ini hendak diulas menimpa sejarah pendek dan bermacam aset Kerajaan Samudera Pasai.

Bermacam Aset Kerajaan Samudera Pasai

Mengutip novel Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas IX karya Dokter. H. Murodi, MA, kerajaan Samudra Pasai terletak di tepi laut timur Sumatera tepatnya diantara Sungai Jambu Air dengan Sungai Pasai di Aceh Utara.

Kerajaan Samudera Pasai, yang berdiri pada abad ke- 13, ialah salah satu kerajaan bercorak Islam tertua di Nusantara.

Kerajaan ini sudah meninggalkan bermacam aset yang jadi saksi bisu dari kejayaan serta kekayaan budaya mereka.

Berikut ini merupakan sebagian aset menarik dari Kerajaan Samudera Pasai:

1. Lonceng Cakra Donya

Salah satu aset terutama dari Kerajaan Samudera Pasai merupakan Lonceng Cakra Donya.

Lonceng ini berdimensi 125 centimeter dengan lebar 75 centimeter. Tetapi, banyak teka- teki yang menyelimuti asal- usul serta guna sesungguhnya dari lonceng ini.

2. Kuburan Kerajaan

Aset lain merupakan kuburan kerajaan di wilayah dekat Kerajaan Samudera Pasai.

Ada sebagian posisi kuburan kerajaan yang diyakini selaku tempat peristirahatan para raja serta anggota keluarga kerajaan.

Walaupun lokasinya sudah diidentifikasi, banyak teka- teki yang belum terpecahkan, semacam makam raja mana yang sesungguhnya terletak di tiap kuburan tersebut.

3. Prasasti serta Artefak

Prasasti serta artefak dari Kerajaan Samudera Pasai pula jadi saksi sejarah yang menarik.

Prasasti- prasasti ini, yang ditemui di dekat daerah Aceh, membagikan pengetahuan tentang kehidupan sosial, politik, serta agama Islam pada masa itu.

4. Sistem Hukum Islam

Salah satu peninggalan berarti dari Kerajaan Samudera Pasai merupakan sistem hukum Islam yang diterapkan di daerah tersebut.

Walaupun sumber- sumber tertulis tentang sistem hukum ini terbatas, tetapi sebagian catatan menampilkan terdapatnya aplikasi hukum Islam yang kokoh dalam melindungi kedisiplinan sosial serta melaksanakan keadilan di Kerajaan Samudera Pasai.

5. Pengaruh Budaya Arab serta Persia

Kerajaan Samudera Pasai mempunyai ikatan dagang yang kokoh dengan kerajaan- kerajaan Islam di Asia Tenggara, Arab, serta Persia.

Pengaruh budaya Arab serta Persia bisa dilihat dalam seni, arsitektur, serta literatur yang tumbuh di kerajaan ini.

Bermacam aset Kerajaan Samudera Pasai jadi fakta kalau kerajaan tersebut sempat menggapai kejayaannya.

Baca Juga

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Toto Slot

Toto Slot

Toto Slot

Mix Parlay

Mix Parlay

Mix Parlay

Slot 5000

Slot 5000

Slot 5000

shiowla

shiowla

shiowla

shiowla

Nana4D

Nana4D

Nana4D

Nana4D

10 Situs Togel Terpercaya

Tiga Penyebab Runtuhnya Daulah Abbasiyah dalam Sejarah Islam

gracefuldreams.com – Sebutkan 3 pemicu runtuhnya Daulah Abbasiyah! Siswa kelas 11 ditugaskan menanggapi soal Pembelajaran Agama Islam( PAI) ini dengan benar.

Dinasti Abbasiyah ialah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad. Pada masanya, Daulah Abbasiyah tumbuh serta menjadikan dunia Islam selaku pusat pengetahuan.

Sebutkan 3 Pemicu Runtuhnya Daulah Abbasiyah! Ini Jawabannya

Runtuhnya Daulah Abbasiyah diakibatkan oleh sebagian aspek. Dilansir dari novel Sejarah Peradaban Islam, Solihah Titin Sumanti( 2024: 177), berikut merupakan jawaban buat soal sebutkan 3 pemicu runtuhnya Daulah Abbasiyah.

1. Konflik Internal Keluarga Istana

Perebutan kekuasaan di antara kanak- kanak khalifah kerap kali bawa kemunduran serta kehancuran pemerintahan mereka sendiri, apalagi menjurus kepada persaingan antarbangsa.

Kala Harun al- Rasyid meninggal, sesungguhnya telah sempat terdapat konflik di antara anaknya, ialah al- Amin yang didukung oleh orang Arab, serta al- Makmun yang didukung oleh orang Parsi, yang menjurus pada perang kerabat.

Tetapi konflik itu bisa diatasi, serta al- Makmun sanggup bawa kemajuan untuk Islam. Konflik keluarga yang terjalin antar anak khalifah pada masa bani jajaran militer yang direkrut Buwaihi bawa kehancuran serta kemunduran mereka.

2. Dominasi Militer

Pada masa Khalifah al- Mutasim, banyak direkrut jajaran militer dari budak- budak Turki. Terkadang kalangan elite dari mereka dinaikan jadi gubernur di sebagian daerah dinasti Abbasiyah.

Perihal ini menjadikan dominasi militer terus menjadi kokoh, sehingga Khalifah al- Mutasim memindahkan pusat pemerintahan dari Baghdad ke Sammara, 80 mil sebelah utara kota Baghdad.

Dalam perkembangannya, militer ini secara lama- lama membangun kekuatan dalam Daulah. Mereka secara lama- lama mengatur jalannya administrasi pemerintahan Daulah Abbasiyah.

3. Permasalahan Keuangan

Pertumbuhan peradaban serta kebudayaan yang besar dari periode awal mendesak penguasa buat bermewah- mewah. Tiap khalifah cenderung mau lebih elegan dari para pendahulunya.

Pemasukan negeri juga menyusut, sedangkan pengeluaran bertambah. Menyusutnya pemasukan diakibatkan oleh kian menyempitnya daerah kekuasaan, serta banyaknya kerusuhan yang mengusik perekonomian rakyat.

Diperingannya pajak, dan banyaknya dinasti- dinasti kecil yang memerdekakan diri serta tidak lagi membayar upeti, pula ikut membuat pemasukan negeri menyusut.

Ada pula pengeluaran membesar antara lain diakibatkan oleh kehidupan para khalifah serta pejabat terus menjadi elegan, tipe pengeluaran yang terus menjadi bermacam- macam, dan para pejabat yang melaksanakan korupsi.

Sebutkan 3 pemicu runtuhnya Daulah Abbasiyah! Dalam sejarah Islam, runtuhnya Daulah Abbasiyah diakibatkan oleh konflik keluarga, permasalahan militer, serta ekonomi.

Baca Juga

Slot 5000

Slot 5000

slot pulsa

slot gacor

slot demo

scatter hitam

scatter hitam

slot pulsa

slot thailand

scatter hitam

slot pulsa

slot thailand

Kisah Jaka Tingkir dan Misteri Kekuatannya

gracefuldreams.com – Jaka Tingkir merupakan putra dari Ki Kebo Kenanga( Ki Ageng Pengging), anak dari Pangeran Handayaningrat( Ki Ageng Pengging Sepuh), seseorang bangsawan generasi raja Majapahit yang menikahi Ratu Pembayun, salah satunya anak dari Prabu Brawijaya dengan permaisurinya. Mereka merupakan yang orang- orang tuanya bersama dengan para angkatan tua yang lain memilah mati kala para Wali serta prajurit Demak tiba buat mempesona serta bawa mereka buat diadili di Demak, namun setelah itu keluarga- keluarga mereka pula habis seluruh dibantai oleh prajurit Demak di dasar pimpinan para Wali.

Namun balita Jaka Tingkir sukses diselamatkan oleh Sunan Kalijaga sehabis mata batin Sunan Kalijaga memandang suatu sinar cerah di wajah balita itu, sinar wahyu keprabon! Dalam pemikiran batinnya balita itu merupakan penerus raja- raja Majapahit serta wahyunya telah turun kepadanya! Diam- diam balita itu juga dilarikannya serta diserahkannya kepada Nyai Tingkir di pengungsian, yang suaminya pula sudah tewas dalam pembantaian oleh prajurit Demak.

Semenjak kecil Jaka Tingkir bahagia mengembara, ke bukit- bukit, ke gunung- gunung, keluar masuk hutan angker, mendatangi tempat- tempat wingit serta angker ataupun menyepi di goa- goa. Jaka Tingkir merupakan seseorang anak yang nakal serta tidak sempat kapok walaupun kerap sekali dimarahi oleh bunda angkatnya, Nyai Tingkir, sebab kerap tidak kembali serta tidak sering sekali terletak di rumah. Wataknya keras digembleng oleh alam, namun sangat menjunjung besar perilaku ksatria serta tanggung jawab.

Dia suka sekali tiba ke tempat- tempat beresiko serta” terlarang”. Menyusup serta mengobrak- abrik sarang penyamun merupakan kegemarannya. Terus menjadi beresiko situasinya, terus menjadi menarik serta menantang menurutnya.

Sebab kesukaannya menyusup serta mengobrak- abrik sarang penyamun sosoknya jadi momok yang membuat para penyamun serta perampok gusar serta geram. Sekalipun dia telah terkepung, namun dia sendirian dapat melukai lawan- lawannya serta senantiasa dapat lolos dari kepungan, apalagi pula mengobrak- abrik sarang mereka, membuat banyak sekali kehancuran. Dia cuma diketahui dengan nama Jaka dari desa Tingkir, namun tiap diburu hingga ke rumahnya di desa Tingkir, dia senantiasa lagi tidak terletak di rumah.

Meski aslinya dirinya yang anak seseorang bangsawan diberi nama Raden Mas Karebet, namun sebab lagi tinggal di pengungsian bunda angkatnya menyembunyikan nama aslinya itu. Dia cuma dipanggil Jaka( Joko) saja. Nyai Tingkir sendiri pula menyembunyikan bukti diri asli dirinya. Serta sebab di tempat pengungsian itu ada banyak pengungsi dari bermacam tempat orang- orang tidak memahami jati dirinya yang asli.

Namun warga masih dapat mengidentifikasinya selaku seseorang ningrat serta menghormatinya. Warga sangat menghormati kesepuhan pribadinya sehingga dia dikira selaku sesepuh desa Tingkir serta oleh orang- orang dari luar desa Tingkir dia kerap diucap Nyai Tingkir.

Teka- teki Kekuatan Jaka Tingkir

Dikabarkan Jaka Tingkir ialah murid dari Sunan Kalijaga yang dapat dikatakan mumpuni dalam menuntut ilmu. Perihal tersebut dibuktikannya dengan capaian- capaian keberhasilan dalam tiap tes tingkatan ilmunya. Baik ilmu dunia ataupun hal- hal yang memiliki faktor kebatinan ataupun gaib.

Salah satu ilmu Jaka Tingkir yang populer yakni dapat mengalahkan buaya dengan metode bertarung tangan kosong. Cerita ini pula pernah disiarkan sebagian kali dalam sinetron Jaka Tingkir pada dini tahun 2000.

Sesungguhnya masih banyak lagi teka- teki tentang kekuatan yang dipunyai Jaka Tingkir ini. Buktinya sampai saat ini warga masih banyak yang meyakininya serta berbondong- bondong tiba ke tempat pemakaman dia cuma semata- mata buat berziarah serta melihat- lihat.

Apalagi dikatakan masih terdapat segelintir orang yang meyakini apabila seorang melaksanakan semedi( bertapa) di kediaman makam tersebut hingga hendak mendapatkan suatu petunjuk buat masa depannya.

Baca Juga

Rokokslot

Slot 5000

Asal-usul Nama Medan, Berasal dari Tanah Lapang yang Luas

Kota Medan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah DKI Jakarta dan Surabaya. Ini artinya, Medan menjadi kota terbesar di luar pulau Jawa. Berbatasan dengan Selat Malaka, Medan menjadi kota perdagangan, industri, dan bisnis yang sangat penting di Indonesia. Pada zaman dahulu, Kota Medan dikenal dengan nama Tanah Deli karena keadaan tanahnya berawa-rawa kurang kebih seluas 4000 Hektar. Asal-usul nama Kota Medan sendiri berasal dari kata Tamil Maidhan atau Maidhanam yang berarti tanah lapang atau tempat yang luas, yang kemudian teradopsi ke bahasa Melayu.

Dilansir dari laman resmi Dinas Pariwisata Kota Medan, dalam bahasa Melayu arti kata Medan berarti tempat luas untuk berkumpul. Sejak zaman dahulu, Kota Medan memang mejadi tempat bertemunya penduduk dari berbagai tempat, seperti Hamparan Perak, Suka Piring, dan daerah lain utuk berdagang. Dalam riwayat Hamparan Perak yang dokumen aslinya ditulis dalam huruf Karo, tercatat bahwa seorang tokoh Karo, Guru Patimpus, merupakan orang yang pertama kali membuka ‘desa’ yang diberi nama Medan. Guru Patimpus Sembiring Pelawi kemudian pada tahun 1590 dipandang sebagai pembuka sebuah kampung yang bernama Medan Puteri. Pada awal perkembangannya, Medan merupakan sebuah perkampungan kecil yang dinamakan ‘Medan Putri’ yang terletak di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura, tidak jauh dari jalan putri hijau yang sekarang. Kedua sungai tersebut dahulu kala merupakan jalur lalu lintas yang ramai dan inilah cikal bakal Kota Medan cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang penting. Menurut Mohammad Said (1997), asal-usul kata Medan diambil dari kampung Medan Putri ini. Karenanya, hari jadi Kota Medan ditetapkan berdasarkan perkiraan tanggal 1 Juli 1590 dan diusulkan ke Wali Kota Medan untuk dijadikan sebagai hari jadi Kota Medan. Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari sungai ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu Langkat.

Sedangkan kesultanan Deli yang berkuasa pada masa itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah di antara kedua sungai tersebut. Menurut Volker, pada tahun 1860 Medan masih dipenuhi hutan rimba, terutama di muara-muara sungai dan diselingi permukiman penduduk yang berasal dari Karo dan Semenanjung Malaya. Dilansir laman resmi Pemerintah Kota Medan, pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun tembakau di Deli yang membuat perekonomian dan Medan menjadi kota pusat pemeritahan di Sumatera Utara. Medan adalah kota pertama di Indonesia yang mengintegrasikan bandara dengan kereta api. Menurut Bappenas, Medan adalah kota multietnis karena penduduknya terdiri dari orang-orang dengan latar budaya dan agama yang berbeda.

LINK TERKAIT :

NANA4D
ROKOKBET
SHIOWLA
FOR4D
OKEWLA

Sejarah dan Makna Motif Tumpal pada Batik

gracefuldreams.com – Motif Tumpal merupakan salah satu motif batik tradisional Indonesia yang mempunyai arti serta filosofi yang dalam. Dalam sejarahnya, motif ini sudah digunakan semenjak era kerajaan selaku simbol kekuasaan serta kehormatan.

Tumpal memiliki arti filosofis cocok konsep kesatuan kosmos, manusia, semesta, serta alam lain dari watak keduniaan mengarah ketuhanan. Tumpal biasanya terdiri dari pola- pola segitiga yang tersusun secara berulang- ulang.

Sejarah Motif Tumpal pada Batik

Kata tumpal berasal dari bahasa Jawa yang maksudnya” pucuk” ataupun” ujung”. Sejarah mengatakan kalau motif hias tumpal telah terdapat semenjak era kerajaan di Indonesia. Pada masa itu, motif ini digunakan oleh raja ataupun bangsawan selaku simbol kekuasaan serta kehormatan.

Tidak hanya itu, di luar keraton, dekat abad ke- 16 kapal dagang Belanda mengangkat kain khas India dari Tepi laut Koromandel. Kain tersebut setelah itu diakulturasikan( dipadukan) dengan budaya tekstil Hindia serta motif batik tumpal.

Kain tersebut tumbuh pesat di daerah pesisir. Warga Jawa menyebut perpaduan kain tersebut dengan kain Serasa, Kumitir, Sembagi, ataupun selaku motif hias segitiga di sisi depan serta balik kain.

Pada era dulu, pemakaian tumpal dibedakan dari tipe kelamin yang memanfaatkannya. Contoh pada pemakaian kain panjang, tumpal diletakkan di bagian balik oleh pemakai pria, serta tumpal diletakkan di bagian depan oleh pemakai wanita.

Arti Motif Tumpal pada Batik

Dukutip dalam novel Lenggok Betawi dibalik Narasi Visual Batik Betawi, Ariesa Pandanwangi( 2021: 25), motif tumpal merupakan wujud segitiga sama kaki serta telah terdapat semenjak era prasejarah. Motif ini dipercaya selaku penolak bala ataupun bisa menjauhkan dari bencana yang hendak mengenai.

Secara filosofis, tumpal dimaknai lewat wujud segitiga yang pada bagian ujungnya meruncing( mirip dengan gigi buaya), mempunyai arti ataupun makna selaku keselarasan antara manusia, semesta, serta alam lain ataupun tuhan.

Tumpal apabila dilihat dari sisi numerologis, pada satu sisinya menggambarkan kekuatan, sisi selanjutnya menggambarkan pembukaan, serta sisi yang lain menggambarkan lahirnya kebijaksanaan.

Tumpal sering berhubungan dengan metode hidup manusia yang bisa selaras dengan alam. Motif ini mengarahkan hidup kehidupan yang bermartabat, balance antara dunia serta tuhan serta sering pula diasosiasikan dengan gunung yang dikira suci.

Demikian sejarah serta arti motif Tumpal pada batik. Dengan mengenali uraian di atas, mudah- mudahan bisa menaikkan pengetahuan pembaca hendak hasil budaya Indonesia.

Baca Juga

Slot Gacor

Slot Pulsa

Toto Slot

Mix Parlay

Mix Parlay

Mix Parlay

Slot Mahjong

Mix Parlay

NANA4D

NANA4D

NANA4D

NANA4D

NANA4D

3 Patung di Bandung Lengkap dengan Sejarahnya

gracefuldreams.com – Ada beberapa patung di Bandung yang menarik untuk ditelusuri sejarahnya untuk menambah wawasan. Seperti yang diketahui bahwa Bandung menjadi salah satu kota yang akan selalu menjadi tujuan ketika liburan.
Selain kulinernya yang khas dan beragam, Kota Kembang ini juga punya banyak objek wisata dengan banyak aktivitas menarik. Dari sekian banyak tempat yang biasa dikunjungi oleh para pengunjung, patung bersejarah juga kerap kali menjadi tujuan wisata sejarah.

Rekomendasi Patung di Bandung untuk Wisata Sejarah

Patung di Bandung. Foto hanya ilustrasi. Bukan foto yang sebenarnya. Sumber foto: Unsplash/Evan
Dikutip dari buku Seni Rupa SMP, Eighteen (2020), patung diartikan juga sebagai sebuah cipta karya manusia yang meniru bentuk dan memiliki keindahan (estetik). Patung sering kali menjadi karya untuk mengabadikan suatu peristiwa.
Salah satu tujuannya adalah untuk mengenang jasa pahlawan sekaligus sebagai sumber informasi sebuah peradaban. Berikut beberapa rekomendasi patung di Bandung yang bisa para pengunjung datangi untuk wisata sejarah.

1. Patung Persib

Patung Persib merupakan patung pemain sepak bola yang sudah ada sejak Persib Bandung menjadi juara perserikatan tahun 1990. Ada ritual tahunan yang dilakukan kelompok suporter Persib.
Para suporter yang memiliki sebutan Viking ubu akan memandikan patung Persib, ketika Persib sedang berulang tahun. Patung ini berlokasi di perempatan Jalan Tamblong, Jalan Lembong, Jalan Sumatra dan Jalan Veteran.

2. Patung Husein Sastranegara

Patung ini terletak di Jalan Abdul Rahman Saleh. Patung ini seolah menjadi ucapan selamat datang untuk masyarakat yang menuju ke bandara.
Husein Sastranegara ini adalah tokoh yang ikut berjuang dalam perang kemerdekaan. Tokoh ini ikut andil dalam berdirinya Angkatan Udara Indonesia.

3. Patung Tentara Pelajar dan Patung Laswi

Patung atau tugu ini didirikan untuk mengenang jasa para pelajar dan laskar wanita Indonesia yang juga turut berjuang melawan penjajahan Belanda bersama-sama dengan tentara Indonesia. Kedua patung ini merupakan hasil karya seniman Sunaryo.
Sunaryo merupakan pendiri Selasar Sunaryo Art Space. Patung laskar wanita sendiri diresmikan oleh Walikota Bandung Husein Wangsaatmaja pada 10 Novermber 1981. Patung ini berdiri di area Viaduct.
Demikianlah penjelasan mengenai tiga patung di Bandung yang menarik untuk ditelusuri sejarahnya untuk menambah wawasan.
Baca Juga:

Sejarah Sunan Bonang, Berdakwah Lewat Seni

gracefuldreams.com – Sejarah Sunan Bonang adalah salah satu kisah yang memiliki peran penting terhadap penyebaran Islam di Indonesia. Sunan Bonang termasuk ke dalam Wali Songo atau sembilan wali yang berdakwah di Indonesia dengan caranya masing-masing.
Wali Songo terdiri dari Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Drajad, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Kisah Wali Songo ini tercatat dalam buku-buku sejarah.
Lalu, siapakah Sunan Bonang? Bagaimana kiprahnya dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia?

Sejarah Sunan Bonang Singkat

Ilustrasi Islam di Indonesia. Foto: Unsplash
Raden Makdum Ibrahim, yang juga dikenal sebagai Sunan Bonang, adalah seorang ulama yang menjadi bagian dari Wali Songo yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa pada abad ke-14 Masehi.
Selain sebagai ulama, Sunan Bonang juga dikenal sebagai seorang seniman yang memanfaatkan berbagai alat seni, termasuk gamelan, dan memiliki keahlian dalam karya sastra.
Mengutip buku Sunan Bonang: Seniman yang Berdakwah karya Handrito & Tim Emir, Sunan Bonang terkenal karena menciptakan jenis gamelan bonang. Inilah asal usul julukan “Sunan Bonang” yang diberikan kepada Raden Makdum Ibrahim.
Menurut Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2016), Raden Makdum Ibrahim adalah putra keempat dari Sunan Ampel, pendiri Pesantren Ampel Denta, dan Nyai Ageng Manila, putri Bupati Tuban, Arya Teja. Sunan Bonang lahir pada 1465 M di Surabaya dan tumbuh di keluarga yang taat beragama.
Pendidikan Islam pertamanya diberikan oleh ayahnya sendiri di pesantren Ampel Denta. Saat remaja, Sunan Bonang pergi ke Pasai, Aceh, untuk belajar dari Syekh Maulana Ishak, ayah dari Sunan Giri. Selain itu, ia juga mendapat pengajaran dari banyak ulama lainnya.

Dakwah Sunan Bonang

Ilustrasi Islam di Indonesia. Foto: Unsplash
Memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan bela diri silat, Sunan Bonang kemudian mengalahkan seorang perampok bernama Raden Said, di mana menjadi anggota Wali Songo dengan nama Sunan Kalijaga.
Dakwah Sunan Bonang dimulai di Kediri, Jawa Timur, kemudian pindah ke Demak, Jawa Tengah, di mana ia menjadi imam Masjid Demak atas permintaan Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak.
Versi lain mengatakan, bahwa nama “Sunan Bonang” berasal dari tempat tinggalnya di Desa Bonang.
Sunan Bonang juga memanfaatkan seni dan sastra untuk menyebarkan Islam. Ia sering memainkan gamelan jenis bonang yang menarik minat penduduk setempat.
Sunan Bonang juga menciptakan tembang tengahan macapat seperti Kidung Bonang.
Selain itu, ia mahir dalam pertunjukan wayang dan memiliki pengetahuan dalam seni dan sastra Jawa. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Suluk Wujil, sebuah karya sastra yang diakui sebagai salah satu yang terbesar di Nusantara, karena isi dan maknanya yang kaya dalam konteks kehidupan beragama.
Sunan Bonang sangat fokus pada perannya sebagai ulama dan seniman sehingga tidak pernah menikah hingga wafatnya pada 1525 M. Makamnya terletak di kompleks pemakaman Desa Kutorejo, Tuban, Jawa Timur.
Itulah sejarah Sunan Bonang yang mungkin kini belum diketahui oleh kebanyakan orang. Ia pun ikut berperan dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara.
Baca Juga:

3 Alasan Sumpah Pemuda Sangat Penting dalam Sejarah Indonesia

gracefuldreams.com – Sumpah pemuda merupakan ikrar yang menjadi tonggak penting dalam sejarah pergerakan untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Alasan Sumpah Pemuda sangat penting dalam sejarah Indonesia adalah menjadi penegas cita-cita bangsa Indonesia.

Pada dasarnya, sumpah pemuda merupakan keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan selama dua hari di Batavia, yaitu 27-28 Oktober 1928. Harapannya, Sumpah Pemuda bisa menjadi asas bagi setiap perkumpulan kebangsaan Indonesia.

Dikutip dari buku Buletin Perpus Bung Karno karya Perpustakaan Proklamator Bung Karno, di bawah ini ada alasan terkait pentingnya Sumpah Pemuda dalam sejarah Indonesia.

Alasan Sumpah Pemuda Sangat Penting dalam Sejarah Indonesia

Sumpah pemuda berperan sangat penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Hal ini karena Sumpah Pemuda menjadi momen berkumpul pada pemuda Indonesia untuk mengobarkan semangat dalam memperjuangkan kemerdekaan.

1. Pentingnya Nilai-nilai Persatuan Bangsa

Adanya Sumpah Pemuda ini mengajarkan akan pentingnya nilai-nilai persatuan bangsa Indonesia. Apalagi Sumpah Pemuda merupakan hasil dari Kongres Pemuda yang mana diadakan sebanyak tiga kali.

Pada Kongres Pemuda, para pemuda dari berbagai daerah yang ada di Indonesia berkumpul menjadi satu untuk memperjuangkan kemerdekaan. Ada yang berasal dari Jong Java, Jong Batak, Jong Sumatra, Jong Celebes, dan organisasi kedaerahan lainnya.

2. Sebagai Dasar untuk Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Hasil-hasil Kongres Pemuda dari awal hingga yang ketiga selalu dijadikan dasar untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya hasilnya adalah lahirnya Sumpah Pemuda pada saat Kongres Pemuda II.

Sejak kehadirannya, Sumpah Pemuda sudah menjadi tonggak awal terjadinya pergerakan para pemuda Indonesia. Para pemuda kembali bersemangat untuk sadar akan bangsa Indonesia perlu diperjuangkan kemerdekaannya.

3. Membangkitkan Semangat Perjuangan

Sumpah Pemuda merupakan sebuah janji atau ikrar yang diucapkan para pemuda pada saat Kongres Pemuda II. Janji ini sangat penting karena dapat memberi harapan baru hingga berhasil membangkitkan semangat perjuangan.

Terutama kaum pemuda yang kembali bersemangat untuk memperjuangkan kebangsaan Indonesia melawan para penjajah. Bukan hanya itu saja, tetapi Sumpah Pemuda adalah jembatan pemersatu berbagai organisasi pemuda.

Sejak awal banyak organisasi pemuda yang ada di Indonesia, sayangnya organisasi-organisasi tersebut masih bersifat kedaerahan. Adanya Sumpah Pemuda ini mengubah pandangan bahwa organisasi tersebut menjadi bersifat nasional.

Jadi alasan Sumpah Pemuda sangat penting dalam sejarah Indonesia karena berhasil membangkitkan semangat para pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

okewla

okewla

okewla

okewla

okewla

okewla

okewla

okewla

okewla

okewla

okewla

okewla

okewla

okewla

okewla

Sejarah dan Misteri Datangnya Buddha Maitreya

gracefuldrreams.com – Dalam agama Buddha, yang dimaksud Bodhisattva Maitreya atau Buddha Maitreya adalah Buddha yang akan datang. Dalam bahasa Tionghoa, Maitreya terkenal sebagai Mile Pusa (彌勒菩薩).

Buddha yang akan datang setelah Buddha Sakyamuni adalah Buddha Maitreya yang saat ini masih bergelar sebagai bodhisattva (calon Buddha), perlu diketahui bahwa dalam ajaran agama Buddha diterangkan bahwa Buddha adalah sebuah gelar, bukan menunjuk kepada Buddha Sakyamuni saja. Mereka percaya bahwa Maitreya bertempat tinggal di surga Tusita, yang merupakan tempat tinggal bagi para bodhisatva sebelum mencapai tingkat ke-buddha-an. Konon, dahulu Buddha Sakyamuni juga bertempat tinggal di sini sebelum akhirnya terlahir sebagai Siddharta Gautama di dunia.

Buddha Gautama bukanlah Buddha yang pertama di dalam masa-dunia ini (masa-dunia atau kalpa; satu kalpa lamanya kurang lebih 4.320.000.000 tahun). Buddha-Buddha sebelumnya adalah Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, Buddha Kassapa, Buddha yang akan datang adalah Buddha Mettaya (Maitreya).

Sejarah Buddha Maitreya

Jika dirunut dari sejarah, Buddha Maitreya adalah bagian dari Buddha Mahayana, hal ini dikarenakan Buddha Maitreya merupakan perkembangan lanjutan dari Buddhisme Zen. Dalam perkembangannya, Buddha Maitreya terdiri dari doktrin dan garis Kepatriatan yang langsung dari Buddhisme Zen sedangkan BuddhismeZen, merupakan salah satu mazhab Buddhisme Mahayana yang amat terkenal. maka dari itu wajar bila disebut bahwa Buddhisme zen adalah cikal bakal timbulnya Buddha Maitreya.

Perkembangan Buddha Maitreya dibagi menjadi tiga zaman yaitu;

  • Maitreya di zaman pra-Buddha Sakyamuni
  • Maitreya di zaman Buddha Sakyamuni
  • Maitreya di zaman pasca Buddha Sakyamuni.

Maitreya di zaman pasca Buddha Sakyamuni inilah yang dikenal sebagai Bhiksu Berkantong. Konon, Bhiksu Berkantong ini lahir di kabupaten Feng Hua daerah Zhi Jiang Ming Zhou (China), namun asal-usul keluarganya kurang diketahui. Pada masa akhir pemerintahan Liang, dia menetap di kuil Yue Lin. Saat detik-detik menghembuskan napas terakhir, dia sempat berkata, “Maitreya oh Maitreya, telah menjelma banyak kali tak terhingga, bertujuan membimbing umat manusia namun umat manusia tidak mengenalnya”. Sampai saat ini belum ada lagi predikat Buddha Maitreya yang disematkan.

Di Indonesia, Buddha Maitreya berkembang menjadi sebuah aliran agama yang unik. Aliran ini dikenal mengadopsi istilah-istilah Indonesia dan Sansekerta Buddha. Salah satu penyebabnya mungkin karena saat itu adanya tekanan pemerintah ORBA yang melarang penggunaan bahasa Mandarin, maka akhirnya liturgi dan upacara keagamaan menggunakan bahasa Indonesia. Namun, saat ini vihara Maitreya kembali lebih bebas menggunakan bahasa Mandarin. Vihara Maitreya di Indonesia juga unik, karena memiliku ciri khas kalimat “Tuhan Maha Esa” dan mengikuti perayaan Buddha seperti Waisak, Kathina, dan menggantungkan gambar Siddharta Buddha.

Meskipun dalam perayaan-perayaan ini, aliran Maitreya biasanya mempunyai cara sendiri untuk merayakan yang tidak berhubungan dengan perayaan yang sebenarnya.

Melansir dari buku Maitreya Buddha in I-Kuan Tao, Joseph J. F. Chen, 2014, aliran Maitreya bisa dibilang mengalami perkembangan paling pesat di antara aliran Buddha lainnya di Indonesia. Para pengikut aliran Maitreya dianjurkan untuk menjadi vegetarian, dan menyebarkan ajaran ini dengan membawa teman atau saudara untuk memohon jalan terbaik.

Baca Juga:

Rokokslot

Rokoslot

Rokokslot

Judi Bola

Mix Parlay

Mix Parlay

Scatter Pink

Scatter Hitam

Scatter Hitam

Scatter Pink

Nono4D

Nono4D

Tebak Angka Jitu

Mengungkap Misteri Candi Dieng: Jejak Bersejarah Masa Mataram Kuno

gracefuldreams.com – Dieng, sebuah nama daerah pegunungan yang memiliki sejumlah peninggalan purbakala. Kunjungan pertama saya baru dimulai pada tahun 2013, beberapa saat setelah menikah. Pada saat itu, saya hanya berkunjung ke rumah saudara. Belum sempat mengunjungi situs candinya.

Kunjungan ke candinya baru dilakukan sekitar tahun 2018 an. Kunjungan pertama adalah kompleks Candi Arjuna saja. Kunjungan ke candi selanjutnya dilakukan pada tahun 2022. Selain candi tersebut, saya juga berkunjung ke candi Setyaki dan kompleks museum Kailasa.

Kala itu, saya pribadi belum banyak mencari data tentang candi ini. Baru di tahun 2024 ini secara kebetulan saya kebagian tugas ke Candi Dieng. Tepatnya tugas BPK (Balai Pelestarian Kebudayaan) Mengajar. Sebuah tugas yang memancing keingintahuan saya untuk mengeksplorasi data tentang Candi Dieng. Berikut sejumlah fakta tentang candi Dieng.

1. Merupakan salah satu peninggalan dari masa Mataram Kuno yang tertua

Pendapat bahwa bangunan candi Dieng berasal dari masa Mataram Kuno ini berdasarkan gaya bangunan yang ada pada candi tersebut. Candi Bima, yang letaknya tidak jauh dari kawah Sikidang, merupakan bangunan candi tertua. Pendapat ini telah muncul sejak awal dari penemuan. Catatan dari Raffles maupun N.J Krom senantiasa setia pada pendapat ini.

Asumsi ini muncul berdasarkan bentuk atap dari candi Bima. Laman kemdikbud.go.id, menyebut jika atap dari candi ini memadukan gaya dari India Utara dan Selatan. Gaya India Utara dilihat dari Menara tinggi (sikhara), sementara gaya India Selatan ditunjukkan dengan adanya menara-menara di bagian sudut dan relung berbentuk tapal kuda. Relung tersebut dihias dengan arca kudu. Penggabungan gaya tersebut hanya dijumpai pada candi ini saja.

Sementara tentang siapa raja yang membangunnya juga belum diketahui data pastinya. Hal ini karena belum ada data pasti yang menyebutnya.

2. Ditemukan dalam keadaan runtuh dan sebagian terpendam

Kondisi sejumlah candi di Dieng saat ditemukan tentu berbeda dengan kondisi saat ini. Saat ditemukan beberapa candi sudah dalam keadaan runtuh. Bahkan ada ada beberapa candi lagi yang sudah hilang jejaknya. Hal ini lumrah terjadi pada semua candi yang ada di pulau Jawa. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya.

Sepeninggal masyarakat pendukung dan penggunanya candi, daerah sekitar candi kemudian dihuni masyarakat baru, yang tidak tahu menahu tentang candi. Mereka turut andil dalam “menghilangkan” candi, dengan cara memanfaatkan batu-batu reruntuhan candi untuk bangunan rumah.

Sementara, masyarakat Eropa pada abad 19 juga ikut serta mendukung “hilangnya” candi. Mereka terbiasa memindahkan arca atau sejumlah temuan ke daerah lain maupun menggunakan batu candi untuk pembangunan gedung, jembatan, jalan dan bangunan lainnya. Fakta ini telah banyak diungkap dalam tulisan J.F.G. Brumund maupun Ijzerman pada abad 19.

3. Merupakan candi untuk agama Hindu

Seluruh candi-candi yang ada di Dieng memiliki latar agama Hindu. Meski ada sebutan Ondo Budho, deretan anak tangga yang juga menjadi salah satu peninggalan purbakala. Istilah Budho di kalangan masyarakat Jawa bukanlah merujuk pada agama Buddha saja, tetapi pada agama yang dianut nenek moyang yaitu Hindu – Buddha. Berarti, ini juga termasuk agama Hindu yang sempat dianut masyarakat pembangun candi Dieng.

4. Dicatat kembali pada abad 19

Catatan tertulis tertua yang menyebutkan kembali candi ini adalah laporan dari Mayor H.C. Cornelius (1774-1833), seorang insinyur militer Belanda dan Kapten Godfrey Phipps Baker (1786-1850, Perwira Infanteri Ringan Benggala ke-7). Keduanya merupakan utusan dari Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Mereka bertugas di waktu yang berbeda. Cornelius berkunjung lebih awal ke Dieng, yaitu pada 1814, sementara Baker pada 1815. Menariknya laporan Baker lah yang dirujuk Raffles dalam bukunya The History of Java.

Sementara laporan dari Cornelius digunakan lebih kemudian oleh para peneliti Belanda, seperti N.J.Krom. Alasannya, laporan Cornelius lebih detail daripada Baker.

5. Berbahan batu kali

Bahan dari bangunan candi ini adalah batu kali. Ini menyesuaikan dengan ketersediaan bahan. Di sekitar daerah tersebut. Meskipun sama-sama andesit, namun ukurannya berbeda dengan batu yang digunakan di candi lain, misalnya candi Prambanan.

Semoga fakta-fakta di atas bisa membuat teman-teman lebih mengetahui tentang candi Dieng. Salam Budaya.

Baca Juga:

Mix Parlay

Mix Parlay