Sejarah dan Misteri Datangnya Buddha Maitreya

gracefuldrreams.com – Dalam agama Buddha, yang dimaksud Bodhisattva Maitreya atau Buddha Maitreya adalah Buddha yang akan datang. Dalam bahasa Tionghoa, Maitreya terkenal sebagai Mile Pusa (彌勒菩薩).

Buddha yang akan datang setelah Buddha Sakyamuni adalah Buddha Maitreya yang saat ini masih bergelar sebagai bodhisattva (calon Buddha), perlu diketahui bahwa dalam ajaran agama Buddha diterangkan bahwa Buddha adalah sebuah gelar, bukan menunjuk kepada Buddha Sakyamuni saja. Mereka percaya bahwa Maitreya bertempat tinggal di surga Tusita, yang merupakan tempat tinggal bagi para bodhisatva sebelum mencapai tingkat ke-buddha-an. Konon, dahulu Buddha Sakyamuni juga bertempat tinggal di sini sebelum akhirnya terlahir sebagai Siddharta Gautama di dunia.

Buddha Gautama bukanlah Buddha yang pertama di dalam masa-dunia ini (masa-dunia atau kalpa; satu kalpa lamanya kurang lebih 4.320.000.000 tahun). Buddha-Buddha sebelumnya adalah Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, Buddha Kassapa, Buddha yang akan datang adalah Buddha Mettaya (Maitreya).

Sejarah Buddha Maitreya

Jika dirunut dari sejarah, Buddha Maitreya adalah bagian dari Buddha Mahayana, hal ini dikarenakan Buddha Maitreya merupakan perkembangan lanjutan dari Buddhisme Zen. Dalam perkembangannya, Buddha Maitreya terdiri dari doktrin dan garis Kepatriatan yang langsung dari Buddhisme Zen sedangkan BuddhismeZen, merupakan salah satu mazhab Buddhisme Mahayana yang amat terkenal. maka dari itu wajar bila disebut bahwa Buddhisme zen adalah cikal bakal timbulnya Buddha Maitreya.

Perkembangan Buddha Maitreya dibagi menjadi tiga zaman yaitu;

  • Maitreya di zaman pra-Buddha Sakyamuni
  • Maitreya di zaman Buddha Sakyamuni
  • Maitreya di zaman pasca Buddha Sakyamuni.

Maitreya di zaman pasca Buddha Sakyamuni inilah yang dikenal sebagai Bhiksu Berkantong. Konon, Bhiksu Berkantong ini lahir di kabupaten Feng Hua daerah Zhi Jiang Ming Zhou (China), namun asal-usul keluarganya kurang diketahui. Pada masa akhir pemerintahan Liang, dia menetap di kuil Yue Lin. Saat detik-detik menghembuskan napas terakhir, dia sempat berkata, “Maitreya oh Maitreya, telah menjelma banyak kali tak terhingga, bertujuan membimbing umat manusia namun umat manusia tidak mengenalnya”. Sampai saat ini belum ada lagi predikat Buddha Maitreya yang disematkan.

Di Indonesia, Buddha Maitreya berkembang menjadi sebuah aliran agama yang unik. Aliran ini dikenal mengadopsi istilah-istilah Indonesia dan Sansekerta Buddha. Salah satu penyebabnya mungkin karena saat itu adanya tekanan pemerintah ORBA yang melarang penggunaan bahasa Mandarin, maka akhirnya liturgi dan upacara keagamaan menggunakan bahasa Indonesia. Namun, saat ini vihara Maitreya kembali lebih bebas menggunakan bahasa Mandarin. Vihara Maitreya di Indonesia juga unik, karena memiliku ciri khas kalimat “Tuhan Maha Esa” dan mengikuti perayaan Buddha seperti Waisak, Kathina, dan menggantungkan gambar Siddharta Buddha.

Meskipun dalam perayaan-perayaan ini, aliran Maitreya biasanya mempunyai cara sendiri untuk merayakan yang tidak berhubungan dengan perayaan yang sebenarnya.

Melansir dari buku Maitreya Buddha in I-Kuan Tao, Joseph J. F. Chen, 2014, aliran Maitreya bisa dibilang mengalami perkembangan paling pesat di antara aliran Buddha lainnya di Indonesia. Para pengikut aliran Maitreya dianjurkan untuk menjadi vegetarian, dan menyebarkan ajaran ini dengan membawa teman atau saudara untuk memohon jalan terbaik.

Baca Juga:

Rokokslot

Rokoslot

Rokokslot

Judi Bola

Mix Parlay

Mix Parlay

Scatter Pink

Scatter Hitam

Scatter Hitam

Scatter Pink

Nono4D

Nono4D

Tebak Angka Jitu