Peristiwa Penghilangan Orang Secara Paksa 1997-1998, Siapa Saja Korbannya?

gracefuldreams.com – Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) telah mengumumkan pengakuan negara terhadap kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat di Indonesia.

Hal itu ia sampaikan setelah menerima laporan akhir pelaksanaan tugas dan rekomendasi pelanggaran HAM berat di masa lalu. Laporan itu sebelumnya diterima Menkopolhukam Mahfud MD dari Tim Pelaksana Penyelesaian Nonyudisial Pelanggaran HAM yang Berat di Masa Lalu (PPHAM).

“Saya telah membaca dengan saksama laporan dari Tim Penyelesaian Nonyudisial Pelanggaran HAM Berat yang dibentuk berdasarkan Keppres 17/2022,” ucap Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/1).

“Dengan pikiran yang jernih dan hati yang tulus, saya sebagai Kepala Negara RI mengakui bahwa pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat memang terjadi di berbagai peristiwa. Dan saya sangat menyesalkan terjadinya peristiwa pelanggaran HAM berat pada yang pertama,” imbuhnya.

Salah satu yang masuk dalam kategori pelanggaran HAM berat adalah peristiwa Penghilangan Orang Secara Paksa (1997-1998). Bagaimana kasusnya?

Penghilangan orang secara paksa mengacu pada penculikan para aktivis, pemuda, dan mahasiswa yang kala itu ingin menegakkan keadilan serta demokrasi pada masa pemerintahan Orde Baru. Mereka yang kritis terhadap kebijakan pemerintah dipandang sebagai kelompok yang membahayakan serta mengancam stabilitas negara.

Peristiwa ini terjadi pada periode 1997-1998, jelang pemilihan Presiden (Pilpres) untuk periode 1998-2003. Kala itu, terdapat dua agenda politik besar yang tengah disiapkan: Pemilihan Umum (Pemilu) 1997 dan Sidang Umum (SU) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada Maret 1998, untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden RI.

Pelaku kasus peristiwa penculikan ini ialah Tim Mawar. Diambil dari buku Widji Thukul Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa (2017) karya Ristia Nurmalita, Tim Mawar adalah sebuah tim dari kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Group IV dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dibentuk untuk melakukan penculikan para aktivis politik pro demokrasi yang dianggap membahayakan posisi Presiden Soeharto. Tim ini dikomandoi oleh Komandan Batalyon 42, Mayor Bambang Kristiono.

Tim Mawar yang juga bertugas mendeteksi kelompok radikal, pelaku aksi kerusuhan, dan teror, kala itu menyusun rencana penangkapan sejumlah aktivis yang diduga terlibat dalam peristiwa ledakan di Rusun Tanah Tinggi, Jakarta Pusat pada 18 Januari 1998. Mayor Bambang mendapat data intelijen berisikan Sembilan nama yang menjadi prioritas untuk ditangkap.

Berdasarkan data Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), 9 orang tersebut adalah sebagai berikut:

No
Nama
Tanggal Hilang
Keterangan
1
Aan Rusdiyanto
13 Maret 1998
Diambil paksa di rumah susun Klender, Jakarta Timur
2
Andi Arief
28 Maret 1998
Diambil paksa di Lampung
3
Desmond Junaedi Mahesa
3 Februari 1998
Terakhir terlihat di Salemba, Jakarta Pusat
4
Faisol Reza
12 Maret 1998
Dikejar dan ditangkap di RS Ciptomangunkusumo, Jakarta Pusat
5
Haryanto Taslam
8 Maret 1998
Saat mengendarai mobil dikejar dan ditangkap di pintu TMII
6
Mugiyanto
13 Maret 1998
Diambil paksa di rumah susun Klender, Jakarta Timur
7
Nezar Patria
13 Maret 1998
Diambil paksa di rumah susun Klender, Jakarta Timur
8
Pius Lustrilanang
4 Februari 1998
Terakhir terlihat di RSCM, Jakarta Pusat
9
Raharja Waluya Jati
12 Maret 1998
Dikejar dan ditangkap di RS Ciptomangunkusumo, Jakarta Pusat

Kesembilan nama di atas dipulangkan ke tempat asalnya masing-masing. Namun ada 13 orang lainnya yang juga ditahan oleh Tim Mawar. 13 aktivis tersebut hingga kita belum diketahui keberadaannya. Berikut daftarnya.

No
Nama
Tanggal Hilang
Keterangan
1
Dedy Umar Hamdun
29 Mei 1997
Jakarta / Terakhir terlihat di Tebet
2
Herman Hendrawan
12 Maret 1998
Jakarta / Terakhir terlihat di YLBHI
3
Hendra Hambali
14 Mei 1998
Jakarta / Terakhir terlihat di Glodok Plaza
4
Ismail
29 Mei 1997
Jakarta / Terakhir terlihat di Tebet
5
M Yusuf
7 Mei 1997
Jakarta / Terakhir terlihat di Tebet
6
Noval Al Katiri
29 Mei 1997
Jakarta
7
Petrus Bima Anugrah
1 April 1998
Jakarta / Terakhir terlihat di Grogol
8
Sony
26 April 1997
Jakarta / Terakhir terlihat di Kelapa Gading
9
Suyat
13 Februari 1998
Solo / Terakhir terlihat di Solo, Jawa Tengah
10
Ucok Munandar Siahaan
14 Mei 1998
Jakarta / Terakhir terlihat di Ciputat
11
Yadin Muhidin
14 Mei 1998
Jakarta / Terakhir terlihat di Sunter Agung
12
Yani Afri
26 April 1997
Jakarta / Terakhir terlihat di Kelapa Gading
13
Wiji Tukul
Pada kisaran akhir 1998 / awal 1999
Jakarta / Terakhir terlihat di Utan Kayu

Tempat penyekapan seluruh aktivis yang ditangkap disebut berada di Cijantung. Tempat tersebut juga sebagai markas Kopassus. Di dalam markas tersebut terdapat ruang rapat, ruang interogasi, hingga sel.

Slot Demo

Slot Pulsa

Slot Pulsa

Rokokslot

Slot x500

Slot x500

Slot Gopay

Slot Gopay

Slot Mahjong

Slot Gopay

Scatter Hitam

Mix Parlay

Rokokslot

Rokokslot

Slot Mahjong

Scatter Biru

Slot Mahjong

Rokokslot

RTP Slot Gacor

Scatter Pink

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Rokokslot

Berita Random

Berita Terkini

Pusat Kesehatan

Wisata Masa Kini

Pusat Kuliner

Kamu Harus Tau

Gudang Resep

Berita Seputar Olahraga

Fakta Menarik